Bronkitis

Pengertian

Bronkitis (Bronkitis inflamasi-Inflamation bronchi) digambarkan sebagai inflamasi dari pembuluh bronkus. Inflamasi menyebabkan bengkak pada permukaannya, mempersempit pembuluh dan menimbulkan sekresi dari cairan inflamasi.

Bronkhitis adalah gangguan paru obstruktif yang ditandai produksi mucus berlebih di saluran nafas bawah dan menyebabkan batuk kronis. Kondisi ini terjadi setidaknya 3 bulan berturut- turut dalam setahun untuk 2 tahun. (Elizabeth J. Corwin, 2009)

Bronkhitis adalah suatu peradangan bronkhioli, bronkhus, dan trakhea oleh berbagai sebab. Bronkhitis dapat didisebabkan oleh virus, lebih sering dengan jenis (Rhinovirus, Respiratory Syncitial virus (RSV), Influenza virus, parainfluenza virus, dan coxsackie). Bronkitis akut juga dapat pada anak-anak yang sedang menderita morbili, pertusis, dan infeksi Mycoplasma pneumoniae.Penyebab bronkitis lainnya juga bisa oleh bakteri seperti Staphylococcus, Streptococcus, Pneumococcus, Haemophylus influenzae. Selain itu, bronkitis juga dapat disebabkan oleh parasit seperti askariasis dan jamur. (Mutaqin Arif, 2012).

Etiologi

Adalah 3 faktor utama yang mempengaruhi timbulnya bronchitis yaitu rokok, infeksi dari polusi. Selain itu terdapat pula hubungan dengan faktor keturunan dan status sosial.

1. Rokok

Menurut buku Elizabeth J. Corwin, rokok adalah penyebab utama timbulnya bronchitis. Komponen asap rokok menstimulus perubahan pada sel- sel penghasil mucus bronkus dan silia. Komponen- komponen tersebut juga menstimulasi inflamasi kronis, yang merupakan cirri khas bronchitis.

2. Infeksi

Eksaserbasi bronchitis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus yang kemudian menyebabkan infeksi sekunder bakteri. Bakteri yang diisolasi paling banyak adalah Hemophilus influenza dan streptococcus pneumonie. Selain itu, menurut Muttaqien Arif, 2012, Bronkhitis adalah suatu peradangan bronkhioli, bronkhus, dan trakhea oleh berbagai sebab. Bronkhitis biasanya lebih sering disebabkan berbagai sebab. Bronkhitis sering disebabkan oleh virus Rhinovirus, Respiratory Syncitial virus (RSV), virus influenza, virus parainfluenza, dan Coxsackie virus. Bronkhitis akut juga dapat dijumpai pada anak yang sedang menderita morbili, pertusis, dan infeksi Mycoplasma pneumonie. Penyebab bronkhitis lainnya bisa juga oleh bakteri seperti Staphylococcus, streptococcus, pneumococcus, dan Haemophylus influenzae.Selain itu, bronkhitis dapat juga disebabkan oleh parasit seperti askariasis dan jamur.

3. Polusi

Polusi tidak begitu besar pengaruhnya sebagai faktor penyebab, tetapi bila ditambah merokok resiko akan lebih tinggi. Zat – zat kimia dapat juga menyebabkan bronchitis adalah zat – zat pereduksi seperti O2, zat – zat pengoksida seperti N2O, hidrokarbon, aldehid, ozon.

4. Keturunan

Belum diketahui secara jelas apakah faktor keturunan berperan atau tidak, kecuali pada penderita defisiensi alfa – 1 – antitripsin yang merupakan suatu problem, dimana kelainan ini diturunkan secara autosom resesif. Kerja enzim ini menetralisir enzim proteolitik yang sering dikeluarkan pada peradangan dan merusak jaringan, termasuk jaringan paru.

5. Faktor sosial ekonomi

Kematian pada bronchitis ternyata lebih banyak pada golongan sosial ekonomi rendah, mungkin disebabkan faktor lingkungan dan ekonomi yang lebih jelek.

Patofisiologi

Menurut Muttaqien Arif, 2012 Bronkhitis berawal dari virus dan bakteri biasa masuk melalui port d’entree mulut dan hidung “droplet infection” yang selanjutnya akan menimbulkan viremia/bakteremia dan gejala atau reaksi tubuh untuk melakukan perlawanan melalui aktivasi IgE, Kemudian penemuan patologis dari bronchitis adalah hipertropi dari kelenjar mukosa bronkus dan peningkatan sejumlah sel goblet disertai dengan infiltrasi sel radang dan ini mengakibatkan gejala khas yaitu batuk produktif. Batuk kronik yang disertai peningkatan sekresi bronkus tampaknya mempengaruhi bronchiolus yang kecil – kecil sedemikian rupa sampai bronchiolus tersebut rusak dan dindingnya melebar. Faktor etiologi utama adalah merokok dan polusi udara lain yang biasa terdapat pada daerah industri. Polusi tersebut dapat memperlambat aktifitas silia dan pagositosis, sehingga timbunan mukus meningkat sedangkan mekanisme pertahanannya sendiri melemah.

Mukus yang berlebihan terjadi akibat displasia. Sel-sel penghasil mukus di bronkhus. Selain itu, silia yang melapisi bronkus mengalami kelumpuhan atau disfungsional serta metaplasia. Perubahan-perubahan pada sel-sel penghasil mukus dan sel-sel silia ini mengganggu sistem eskalator mukosiliaris dan menyebabkan penumpukan mukus dalam jumlah besar yang sulit dikeluarkan dari saluran nafas.

Manifestasi klinis

Menurut J.Corwin, semua manifestasi klinis terjadi akibat proses peradangan dan adanya kerusakan langsung akibat mikroorganisme. Manifestasi klinis antara lain : Batuk yang sangat produktif, purulen, dan mudah memburuk. Produksi mucus dalam jumlah sangat banyak, sesak nafas, dispnea, demam, dan malaise.

1. Pemeriksaan fisik

Pada stadium ini tidak ditemukan kelainan fisis. Hanya kadang – kadang terdengar ronchi pada waktu ekspirasi dalam. Bila sudah ada keluhan sesak, akan terdengar ronchi pada waktu ekspirasi maupun inspirasi disertai bising mengi. Juga didapatkan tanda – tanda overinflasi paru seperti barrel chest, kifosis, pada perkusi terdengar hipersonor, peranjakan hati mengecil, batas paru hati lebih ke bawah, pekak jantung berkurang, suara nafas dan suara jantung lemah, kadang – kadang disertai kontraksi otot – otot pernafasan tambahan.

Pemeriksaan diagnostic

1. Pemeriksaan radiologis

Tubular shadow atau traun lines terlihat bayangan garis yang paralel, keluar dari hilus menuju apeks paru. bayangan tersebut adalah bayangan bronchus yang menebal.

2. Pemeriksaan fungsi paru.

3. Analisa gas darah

Pa O2 : rendah (normal 80 – 100 mmHg)

Pa CO2 : tinggi (normal 35 – 45 mmHg).

Saturasi hemoglobin menurun.

Eritropoesis bertambah.

4. Tes fungsi paru : Untuk menentukan penyebab dispnoe, melihat obstruksi, memperkirakan derajat disfungsi.

5. TLC : Meningkat

6. Volume residu : Meningkat.

7. FEV1/FVC : Rasio volume meningkat.

8. Bronchogram : Menunjukkan di latasi silinder bronchus saat inspirasi, pembesaran duktus mukosa.

9. Sputum : Kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen.

10. EKG : Disritmia atrial, peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF.

Penatalaksanaan

1. Tindakan suportif

Pendidikan bagi pasien dan keluarganya tentang :

  • Menghindari merokok
  • Menghindari iritan lainnya yang dapat terhirup.
  • Mengontrol suhu dan kelembaban lingkungan.
  • Nutrisi yang baik.
  • Hidrasi yang adekuat.

2. Terapi khusus (pengobatan).

  • Bronchodilator : salbutamol, aminophilin
  • Antimikroba : amoxilin
  • Kortikosteroid : dexametason, prednison
  • Terapi pernafasan
  • Terapi aerosol : Bricasma inhaler
  • Terapi oksigen
  • Latihan relaksasi
  • Meditasi
  • Rehabilitasi

Prognosis

Prognosis jangka panjang maupun jangka pendek bergantung pada umur dan gejala klinik waktu berobat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *